Pramuka Pindah Golongan

Apa itu golongan? Di dalam Gerakan Pramuka, kita mengenal empat golongan yang dikelompokkan berdasarkan usia. Yaitu golongan siaga (7-10 tahun), golongan penggalang (11-15 tahun), golongan penegak (16-20 tahun), dan golongan pandega (21-25 tahun).


Lalu seperti yang dimaksud dengan pindah golongan? Maksudnya adalah saat seorang pramuka menginjak usia golongan yang berbeda, dia diharuskan untuk pindah golongan. Misalkan seorang siaga telah menginjak usia 11 tahun, padahal teman-temannya masih berusia 10 tahun, maka adik kita tersebut diharuskan untuk pindah golongan menjadi seorang calon penggalang. Penggolongan berdasarkan usia ini sangat baik. Hasil berbagai penelitian memperlihatkan bahwa gerakan pramuka telah membagi golongan berdasarkan kemampuan serta kondisi psikologis peserta didik.

Kemudian seperti apakah proses pindah golongan tersebut? Barangkali setiap gugusdepan dapat menggunakan cara yang berbeda-beda. Sesuai dengan adat gugusdepan masing-masing.

Dalam gugusdepan kami, pindah golongan dilakukan dengan cara melompati tali yang dipasang ditengah-tengah lapangan setinggi lutut. Pada setiap sisi dipersiapkan bentuk upacara sesuai dengan golongannya masing-masing. Saat misalkan seorang siaga akan pindah golongan menjadi seorang calon penggalang, maka sulung membawa anggotanya yang usianya telah habis, menghadap bunda atau yandanya untuk kemudian diserahkan kepada pembina pasukan penggalang. Dari lingkaran tempat upacara siaga, pembina siaga menerima anggota perindukannya yang telah habis masa siaganya, kemudian memberi sedikit wejangan, dan menyerahkan anggotanya kepada pembina pasukan.

Pembina pasukan menerima dengan menekankan, pindah golongan terjadi dikarena usia yang telah habis. Maka adik kita mau tidak mau akan meninggalkan teman-temannya dan bertemu dengan teman-temannya yang baru. Setelah mempersilakan untuk berdoa, pembina mempersilakan adik kita itu untuk melompati tali. Menandakan bahwa dia telah pindah golongan menjadi seorang calon penggalang.

Kewajibanpun berubah dari memiliki Dwisatya dan Dwidarma, maka didalam dunia penggalang, mereka akan memiliki Trisatya dan Dasadarma. Bahkan, dari bentuk upacaranya pun kita bisa melihat saat adik-adik kita masih siaga, secara psikologis mereka masih terpusat kepada Bunda atau Yandanya dilambangkan dengan upacara berbentuk lingkaran. Tetapi saat penggalang, dengan bentuk upacara angkare, artinya mereka telah siap menerima masukan dari luar, dan mulai mengemukakan pikiran/pendapat sendiri.

Sayangnya, kebiasaan pindah golongan ini mulai hilang di banyak gugusdepan. Bahkan di banyak gugusdepan yang berpangkalan di Sekolah Dasar, mereka menggolongkan adik-adik kita berdasarkan kelas apa mereka saat itu. Apabila telah masuk kelas 5 maka otomatis dia masuk penggalang.

Tentunya hal tersebut akan membuat adik-adik kita tidak siap secara psikologis. Bayangkan diusianya yang belum 11 tahun mereka dipaksa untuk berkegiatan penggalang, maka yang terjadi adalah saat mereka menginjak Sekolah Menengah Pertama, mereka akan bosan dengan pramuka. Karena banyak kegiatan penggalang yang sudah mereka alami walaupun secara usia mereka belum waktunya mengikuti kegiatan itu. Sebagai contoh, kegiatan perjusami. Seorang pramuka penggalang akan sangat senang berkemah 3 hari 2 malam, karena memang usianya mendukung hal itu. Tetapi seorang siaga akan kesulitan untuk melakukannya, yang ada mereka akan merasa lelah dan tersiksa, karena usia mereka belum waktunya untuk berkemah selama itu.

Sudah saatnya kita semua kembali ke wujud pramuka yang asli. Pramuka sebagai alat pendidikan kepanduan. Bukan sebagai alat pengumpul trophi atau sertifikat. Tetapi sebagai salah satu bentuk pembinaan bagi para tunas bangsa.

Salam Pramuka!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pramuka Pindah Golongan"

Post a Comment